Prancis Juara Piala Dunia 2018, Pendukung Tewas Dalam Perayaan

Prancis Juara Piala Dunia 2018, Pendukung Tewas Dalam Perayaan

Keberhasilan Timnas Prancis juarai Piala Dunia 2018 memakan korban. Pendukung Prancis meninggal ketika merayakan keberhasilan merebut gelar kedua sepanjang sejarah. Prancis Juara Piala Dunia 2018, Pendukung Tewas Dalam Perayaan.

Bertanding di Luzhniki Stadium, Rusia, Timnas Prancis menang dengan skor 4-2. Kemenangan ini disambut meriah oleh pendukung Les Bleus. Suasana juara tidak hanya terasa di Moskow, Rusia. Di Prancis, suasana perayaan justru lebih tidak terkendali.

Prancis Juara Piala Dunia 2018, Pendukung Tewas Dalam Perayaan

Di salah satu kota Annecy, Alpine, seorang pria berusia 50 tahun tewas tidak lama setelah wasit meniup peluit panjang. Lehernya patah akibat melompat ke selokan untuk merayakan keberhasilan timnas Prancis mengalahkan timnas Kroasia.

Sementara korban lainnya tidak jauh dari Saint-Felix. Seorang pria berusia 30 tahun juga tewas setelah mobil yang ditumpangi menabrak pohon saat perayaan kemenangan Prancis. Prancis Juara Piala Dunia 2018, Pendukung Tewas Dalam Perayaan

Sementara itu, kekacauan juga pecah di beberapa titik. Polisi antii kerusuhan CRS bahkan sampai turun tangan untuk mengendalikan situasi. Dan untuk membubarkan massa, mereka melepaskan tembakan gas air mata yang dibalas lemparan suar oleh pendukung Prancis.

Diwarnai Penjarahan

Keributan paling parah terjadi di tengah kota. Champs Elysee yang menjadi titik perayaan sampai harus ditutup hingga pagi hari. Toko-toko juga sempat dijarah. Setidaknya 30 orang bertopeng ski es masuk ke sebuah toko Parisian dan menjarah anggur dan sampanye.

“Kerusuhan pecah tidak lama setelah orang-orang menolak bubar hingga lewat tengah malam. Toko termasuk Publicis Drugstore yang dekat dengan Arc de Triumphe juga dijarah,” ujar salah seorang sumber di kepolisian. “Jendela dipecahkan dan polisi yang datang diserang. Ada kekacauan yang benar-benar merusak pesta,” jelasnya menambahkan.

Tutup Layanan Publik

Sebanyak 4000 polisi sebenarnya sudah disebar untuk mengantisipasi kericuhan menyambut kembalinya Prancis ke final setelah 2006. Saat suasana semakin tidak terkendali, pihak kepolisian terpaksa menutup sejumlah layanan publik seperti metro dan kereta lainnya.

Masalah juga pecah di kota Lyon. Sejumlah pemuda mengamuk dan merusak mobil dan membayar tempat sampah. Air mancur yang terletak di Bordeaux dan Marseille, serta Lyon juga dipenuhi suporter yang membawa suar. Polisi melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa dari Champs Elysees saat bentrok dengan suporter nakal.